Bisnis
Kamis, 2 Februari 2023 - 17:47 WIB

Kampung Batik Laweyan Menuju Pusat Batik Ramah Lingkungan

Galih Aprilia Wibowo  /  Muh Khodiq Duhri  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Salah satu siswa berusaha mencelupkan kain batik di Mahkota Batik Laweyan, pada Kamis (2/2/2023). (Solopos.com/Galih Aprilia Wibowo).

Solopos.com, SOLO — Kampung Batik Laweyan menjadi salah satu pusatnya usaha batik di Kota Bengawan. Sempat vakum karena pandemi Covid-19, saat ini para pengusaha batik berupaya melek digitalisasi industri guna mewujudkan misi sebagai pusat batik ramah lingkungan.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Forum Pengembang Kampung Batik Laweyan, Solo, Alpha Fabela Priyatmono saat ditemui Solopos.com di rumahnya pada Kamis (2/2/2023). Salah satu dosen Univesitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo ini menguraikan bahwa Kampoeng Batik Laweyan mempunyai asa menjadi pusatnya batik ramah lingkungan di Indonesia.

Advertisement

“Kami punya cita-cita Laweyan, sebagai visi ke depan, kalau Yogyakarta Kota Batik Intenasional, kalau Pekalongan Kota Kreatif berbasis batik, kalau Solo menuju pusatnya batik ramah lingkungan Indonesia,” terang Alpha.

Hal ini ditandai dengan galeri batik miliknya, Mahkota Batik Laweyan, yang menjadi juara pertama industri kecil menengah (IKM) batik se-Jawa Tengah yang hemat air dan energi pada 2021. Penghargaan itu diraih salah satunya karena menggunakan solar cell yaitu tenaga listrik berbasis sinar matahari untuk proses produksi di tempatnya.

Advertisement

Hal ini ditandai dengan galeri batik miliknya, Mahkota Batik Laweyan, yang menjadi juara pertama industri kecil menengah (IKM) batik se-Jawa Tengah yang hemat air dan energi pada 2021. Penghargaan itu diraih salah satunya karena menggunakan solar cell yaitu tenaga listrik berbasis sinar matahari untuk proses produksi di tempatnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral kemudian memberikan bantuan kepada IKM lainnya di Laweyan berupa sepuluh alat solar cell untuk mendukung terwujudnya program tersebut. Alpha mengaku pihaknya juga telah berkolaborasi dengan pemasok bahan baku industrik yang ramah lingkungan.

“Jadi kami berkolaborasi dengan penghasil bahan-bahan yang ramah lingkungan, contohnya RSPO [roundtable on sustainable palm oil] untuk nantinya bisa memasok sawit menjadi pengganti minyak bumi yang digunakan untuk lilin dalam proses membatik,” papar Alpha. Alpha menguraikan waktu pandemi kemarin membuat semua pengusaha batik terpukul hingga sebagian gulung tikar.

Advertisement

Namun beberapa pengusaha batik tetap bangkit dengan cara merambah ke pemasaran digital atau online. “Mau tidak mau, kami harus adaptasi dengan sesuatu yang berbasis digital. Kami di sini juga berupaya membuat marketplace sendiri. Walaupun secara teori mudah, maksudnya bisa dipelajari. Tapi di lapangan itu sulit menyadarkan [perajin batik] beralih ke digital, tidak semudah membalikkan telapak tangan,” terang Alpha.

Ia menguraikan hal tersebut dikarenakan perajin banyak yang rata-rata berusia lanjut sehingga butuh waktu untuk menjajaki digitalisasi tersebut. “Kami sendiri ada pendampingan dari Indihome Telkom, yang berjalan hampir dua bulan untuk menjadi kampung digital, yang setiap pekan ada pelatihan mulai dari branding produk, dan lain-lain,” ujar Alpha.

Ia mengaku telah melirik sejak lama konsep digitalisasi tersebut, belajar dari pengalamannha mengunjungi salah satu perusahaan di Thamrin Jakarta pada 1998 lalu yang telah bekerja secara remote. “Proses untuk mengarah ke digitalisasi itu ada, tapi memang prosesnya enggak mudah. Memang mulai gencar setelah pandemi ini,” ujar Alpha.

Advertisement

Alpha juga mempunyai cita-cita untuk membuat museum kawasan yang berada di Kampoeng Batik Laweyan. “Jadi satu kampung ini sebagai satu museum, dengan masing-masing rumah produksi sebagai ruangan museum yang mempunyai kekhasan masing-masing, jadi setiap rumah beda cerita,” pungkasnya.

Alpha menguraikan usaha batik miliknya sendiri telah ada sejak 1942 dengan penemuan bukti otentik produk batik. Saat ini ia telah bermitra dengan Tokopedia dan sempat dikunjungi oleh Grab Indonesia dan Toyota Indonesia yang bekerja sama dengan National Geographic.

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif